You Are Here: Home » PTB FKIP UNS » Mahasiswa PTB FKIP Manfaatkan “Terak” Menjadi “Emas”

Mahasiswa PTB FKIP Manfaatkan “Terak” Menjadi “Emas”

Mahasiswa PTB FKIP Manfaatkan “Terak” Menjadi “Emas”

SOLO, (PRLM).- Limbah sisa-sisa pengecoran logam di sentra kerajinan cor logam Desa Batur, Kec. Ceper, Kab. Klaten, Jawa Tengah, selama ini menjadi timbunan yang terserak di setiap pekarangan rumah para perajin. Padahal, limbah yang bergumpal-gumpal itu tidak bersahabat dengan kesehatan manusia, karena mengandung unsur logam berat.

Namun di tangan lima orang mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PTB-FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, limbah yang tidak ada nilainya dapat “menjadi emas”. Setidaknya, limbah logam yang dianggap tidak berguna itu, dapat memberi manfaat bagi manusia yang nilainya setara emas.

Hariyawan Herlangga, mahasiswa PTB-FKIP UNS semester 10, bersama empat orang teman seangkatannya yang seluruhnya perempuan, yakni Triana Dewi asal Ceper, Dewi Susilowati (Solo), Arin Susilaningsih (Solo) dan Suci Amri (Solo), awalnya melihat limbah yang disebut “terak” atau “klelet” itu hanya sebagai onggokan sampah. Warga desa itu, menganggap limbah padat yang berasal dari sisa pembakaran logam tersebut tidak ada manfaat apa pun.

Sebaliknya, para mahasiswa itu berpikir, seharusnya ada upaya mengurangi volume limbah yang mungkin bisa mengganggu kesehatan manusia. Bahkan, bila mungkin limbah terak atau klelet bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang bernilai ekonomis.

“Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang teman di Desa Batur. Di desa yang merupakan sentra industri kerajinan cor logam itu, saya melihat banyak sekali limbah terak bercampur batu koral teronggok di pekarangan rumah penduduk,” ujar Hariyawan, memulai kisahnya kepada wartawan.

Di dampingi dosen pembimbingnya Adi Nugroho, ST, MEng, Hariyawan yang sedang menyiapkan skripsi berinisiatif melakukan kajian untuk memanfaatkan limbah yang jumlahnya berlimpah itu. Dia bersama empat rekannya pun melakukan penelitian terhadap manfaat limbah padat tersebut sebagai bahan campuran pembuat beton.

Berbekal teori yang dia dapat di program PTB FKIP, kelima orang mahasiswa itu setidaknya melakukan enam kali percobaan dengan berbagai variasi dan inovasi produk beton dengan bahan tambahan limbah terak atau klelet.

“Setelah berkali-kali membuat inovasi beton dengan berbagai variasi dan dilakukan ujicoba selama tiga bulan, kami mendapatkan hasil luar biasa. Beton dengan terak atau klelet sebagai pengganti batu koral, memiliki kelebihan pada kuat tariknya. Beton dengan bahan campuran batu koral yang tidak mampu menahan daya tarik, meskipun menggunakan besi beton biasanya timbul retak kecil memanjang di permukaan. Namun beton dengan bahan tambahan terak atau klelet tadi tidak terjadi,” ujarnya.

Dalam percobaan pembuatan beton tersebut, menurut mahasiswa UNS angkatan 2009 itu, dia tetap menggunakan standar uji teknik yang berlaku dalam teknologi beton. Setiap variasi percobaanya kelima mahasiswa itu membuat enam sampel dan masing-masing sampel diuji setelah 28 hari. Berdasarkan hasil uji laboratorium, Hariyawan memperoleh bukti keandalan beton temuannya.

“Deposit terak di Desa Batur sendiri berlimpah karena setiap hari para perajin mengecor logam. Dari para perajin di desa itu, setiap rumah bisa menghasilkan empat meter kubik terak per hari. Limbah terak selama ini diambil orang untuk penimbun galian tanah,” tutur Hariyawan lagi.

Dia menegaskan, limbah terak tidak ramah lingkungan, karena berbentuk gumpalan yang berasal dari karat logam. Saat dia dan kawan-kawan memanfaatkan untuk campuran beton, gumpalan terak harus dipecah-pecah dahulu.

Selain itu, tambahnya, limbah terak mengandung unsur logam berat, di antaranya SiO2 atau silikon 35,19%, CaO atau kalsium 26,51%, Fe2O3 atau besi 19,58% dan unsur lain 6,01%.

“Meskipun demikian, setelah terak dijadikan beton memiliki manfaat lain, yaitu dengan berat jenis yang tinggi beton tersebut mampu menangkal radiasi. Dengan berat jenis dan kuat tarik yang besar, beton terak juga dapat digunakan untuk pemecah gelombang laut. Karena kuat tarik beton terak dibanding beton normal lebih tinggi 36,98% dan kuat tekan lebih tinggi 10,51%,” sambungnya.

Adi Nugroho sebagai dosen pembimbing menyatakan bangga terhadap karya kelima mahasiswanya. “Kebanggaan itu karena mereka bukan berasal dari teknik sipil murni, tetapi mahasiswa pendidikan yang meneliti bidang teknik sipil,” katanya. (Tok Suwarto/A-147)***

About The Author

Number of Entries : 10

Comments (1)

Leave a Comment

Copyright © 2016 Pendidikan Teknik Bangunan. All Right Reserved. Powered By ICT Center FKIP UNS, Design By Anwar

Scroll to top